Akupun terdiam. Aku tak
meng-iyakan, dan akupun tak menjawab tidak. “Terimakasih, kamu sangat baik
padaku”. Ujarku dalam hati. Maaf aku tak bisa mencintaimu atau bahkan memberi
kesempatan kepada hati ini untuk belajar mencintaimu.
Aku yang saat itu duduk di kelas
3 akhir masih enggan berpacaran dengan lelaki yang sudah bekerja. Karena aku
tak ingin pikiranku ikut terbawa dia
yang sudah dewasa. Pikirku, aku masih ingin menikmati masa remajaku, masih
ingin menimba ilmu, dan masih ingin mencari pengalaman baru. Sekalipun kamu
sudah memakai seragam kantormu. Tetapi aku masih berpegang pada prinsipku saat
itu.
*
Waktupun berlalu, kini aku bukan
lagi seorang siswa. Tapi aku seorang mahasiswa. Meski demikian, pola pikirku
masih terbawa saat-saat aku masih menjadi seorang siswa. Aku yang masih suka
mengeluh, aku yang engga percaya diri, aku yang masih kekanak-kanakan, ya
inilah aku dengan sifat-sifat lamaku.
Saat itu kembali aku dipertemukan
dengan seorang lelaki. Yang saat itu statusnya seorang mahasiswa FISIP. Aku
mencoba menerima kahadirannya dalam kehidupanku. Toh dia belum bekerja (masih
saja berpegang pada prinsip masa sekolah). Hari demi hari berlalu. Semua
berjalan alami. Dan aku terdiam lagi untuk sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang kerap
tak aku jawab jelas. Dan dia yang saat itu tengah duduk di smester akhir, mulai
disibukan dengan skripsinya. Begitupun aku, seorang mahasiswi baru yang sedang
beradaptasi dari dunia sekolah ke dunia kampus. Yang sedang belajar tentang
semua hal baru. Teman baru, Dosen, kampus, kantin, perpus, tugas, dan semua
tentang kuliah.
Akhirnya semuapun berlalu begitu saja. Aku dan
dia yang sama-sama punya kesibukan masing-masing sekaligus jarak yang jauh
antara kita, membuat kita tak pernah merasa saling kehilangan ataupun untuk
sekedar saling merindukan.
Kesibukan sebagai mahasiswi baru
di Fakultas Ekonomi membuatku tak pernah punya waktu untuk sekedar menyapa
teman lewat grup yang aku buat di jejaring sosial. Tak sempat untuk bercerita
dengan teman lama tentang semua kehidupan baruku. Dan pula tak sempat untuk
sekedar bercerita singkat di kertas putihku.
1 Semester berlalu dengan begitu
cepat. Aku yang saat itu punya teman dekat. Aku tau dia, diapun tau aku. Namun
hanya lewat tatapn jauh. Berjabat tanganpun kita tak pernah. Tapi kita tetap
teman dekat. Mungkin dia satu-satunya teman yang dari sebelum aku resmi menjadi
mahasiswa hingga melewati 1 smester yang penuh cerita, dialah pengganti kertas
putihku. Dengannya aku bercerita tentang semua hal. Hingga akhirnya dia
bercerita tentang ‘rasa’. Aku yang cukup sensitif dengan masalah itu, dan
lagi-lagi aku tak memberi kesempatan pada hati ini untuk terbuka sedikit saja,
dan memberi kesempatan kepadanya.
Dan semuanyapun berubah, dia
menjauhiku karena hal yang sama sekali tak penting bagiku saat itu. Akupun
menyikapinya dengan sikap masa bodoh walau sebenarnya aku memikirkannya. Aku
tak mau dijauhinya, karena aku tak mau kehilangan sosok teman yang sangat baik
padaku. Hingga akhirnya dia menemukan jawaban pada sosok wanita lain. Aku turut
bahagia untukmu teman.
**
Seperti biasa, aku lewati
hari-hariku dengan tugas-tugas baru.
Namun terkadang ada rasa jenuh, saat aku merasa bahwa hidupku hanya berisikan
tugas kampus, kuliah, kost, kantin, dan hal lainnya yang rutin aku jalani. Tak
ada hal lain, tak ada refreshing, ataupun sekedar jalan-jalan mengelilingi
kota.
Akupun menuliskan perasaanku pada
sebuah status di FB ku. Aku jenuh, tak ada yang baru di hidupku. Tak ada
seseorang yang membuatku merasa lebih bahagia melewati hari-hariku. Cinta, aku
yang jarang sekali menulis tentang cinta, tapi entah kenapa aku menulis kata
itu. Hingga seseorang berkomentar padaku “bagaimana mungkin ada seseorang hadir
dalam hidupmu, jika kamu selalu menutup hatimu dan berkata tidak untuk mereka”.
Seseorang itu juga termasuk dalam kata mereka itu.
Aku merenung. Dan memang benar
kata-katanya. Namun tidakah mereka ingin tau apa alasanku? Selama ini aku
terlihat tegar, aku terlihat kuat, semangat menjalani semuanya. Aku ceria, aku
tersenyum aku bilang aku nyaman dan bahagia, serta menikmati hidup ini. Tapi
taukah kalian, bahwa sesungguhnya aku rapuh. Aku mencoba bangkit dari
masalaluku. Dari kisah lamaku. Aku yang mencoba menghapus semua memoriku,
tentang dia. Dia, seseorang yang pernah aku sayang, seseorang yang dahulu amat
sangat aku percaya. Seseorang yang dulu selalu ubah tangisku menjadi tawa.
Seseorang yang dulu selalu memotivasiku, selalu bertukar ilmu denganku, selalu
menguatkan aku. Tapi seseorang itu dengan lembutnya menyakitiku.
Aku rapuh. Rapuh karena kisah
lamaku. Aku enggan menjadi subjek dalam cerita seperti itu lagi. Cukup sekali
aku menjadi pemeran utama dalam kisah pilu. Aku enggan tersakiti ataupun
menyakiti. Aku enggan, enggan menangis lagi. 2 tahun bagiku waktu yang cukup
lama untuk menghapus semua rasa takutku itu. Menghapus semua hal tentang kisah
itu.
Terimakasih untuk semua orang
yang pernah hadir mengisi hari-hariku. Terimakasih telah pernah menyayangiku.
Aku beruntung pernah kenal kalian. Karena aku yakin kalian menyayangiku bukan
karena kelebihanku. Kalian menerima segala kekuranganku. Kalian yang tak pernah
memandang dari rupa, tahta, status sosial, tapi kalian mampu menilaiku dari
sisi lain. Untuk yang pernah tulus menyayangiku, aku yakin ada sosok wanita
yang jauh lebih baik dari aku yang juga akan tulus menyayangimu.
Maaf, karena aku tak pernah
mencoba membuka hati. Tak pernah luluh oleh tulusnya rasa sayang. Tak pernah
memberi alasan untuk sedikit memberi kejelasan tentang 1 pertanyaan. Tak pernah
memberi kesempatan untuk sekedar menjelaskan isi hati. Bukan aku terlalu
pilih-pilih, bukan aku mencari yang sempurna, bukan pula melihat dari bagusnya
rupa, tingginya tahta ataupun melihat derajat sosial. Itu tidak. Hanya saja,
mungkin aku belum bisa.
Kini aku tlah terbiasa sendiri.
Masa-masa berat itu sudah terlewati. Cukup banyak kejadian, hal, pesan,
pelajaran, motivasi dan segala perubahan yang aku dapat selama 2th terakhir.
Bahkan aku amat sangat bersyukur karena masalaluku mengantarkan aku ke
kehidupan yang jauh lebih baik. Aku mengenal banyak orang, teman, sahabat, dan
semua yang secara langsung ataupun todak langsung telah memotivasi aku.
***
Ya Allah Ya Rabb.ku terimakasih
atas semua teguranmu dan semua ujianmu, karena semua itu aku sadar betapa
berdosanya aku selama ini jauh darimu. Terimakasih telah perkenalkan aku dengan
dirinya. Telah dekatkan aku dengannya. Telah jadikan dia perantara untuk
menyadarkan aku. Lewat dia Engkau sampaikan pesan. Lewatnyalah aku lebih
mencintai-Mu. Dan aku sadar, bahwa itu salah. Semoga aku bisa mencintainya
karena-Mu, bukan aku mencintai-Mu karenanya.
Tuntunlah aku menjadi wanita yang
shaleha ya Rabb, tunjukilah aku jalan yang lurus mendapatkan segala ridho-Mu.
Jauhkan aku dari segala rasa iri dengan mereka yang tengah bersama cinta semunya.
Sabarkan aku dalam menantinya menuju ikatan yang Engkau halalkan. Dekatkan aku
dengan orang-orang yang berada di jalan-Mu. Dan jika aku berada di dekat
orang-orang yang jauh dari-Mu semoga aku bisa mendekatkannya dengan-Mu.
Amin ya Rabbal'alamin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar