:)


Kamis, 14 Februari 2013

Tanpa Judul


Akupun terdiam. Aku tak meng-iyakan, dan akupun tak menjawab tidak. “Terimakasih, kamu sangat baik padaku”. Ujarku dalam hati. Maaf aku tak bisa mencintaimu atau bahkan memberi kesempatan kepada hati ini untuk belajar mencintaimu. 

Aku yang saat itu duduk di kelas 3 akhir masih enggan berpacaran dengan lelaki yang sudah bekerja. Karena aku tak ingin  pikiranku ikut terbawa dia yang sudah dewasa. Pikirku, aku masih ingin menikmati masa remajaku, masih ingin menimba ilmu, dan masih ingin mencari pengalaman baru. Sekalipun kamu sudah memakai seragam kantormu. Tetapi aku masih berpegang pada prinsipku saat itu.
*
Waktupun berlalu, kini aku bukan lagi seorang siswa. Tapi aku seorang mahasiswa. Meski demikian, pola pikirku masih terbawa saat-saat aku masih menjadi seorang siswa. Aku yang masih suka mengeluh, aku yang engga percaya diri, aku yang masih kekanak-kanakan, ya inilah aku dengan sifat-sifat lamaku.
Saat itu kembali aku dipertemukan dengan seorang lelaki. Yang saat itu statusnya seorang mahasiswa FISIP. Aku mencoba menerima kahadirannya dalam kehidupanku. Toh dia belum bekerja (masih saja berpegang pada prinsip masa sekolah). Hari demi hari berlalu. Semua berjalan alami. Dan aku terdiam lagi untuk sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang kerap tak aku jawab jelas. Dan dia yang saat itu tengah duduk di smester akhir, mulai disibukan dengan skripsinya. Begitupun aku, seorang mahasiswi baru yang sedang beradaptasi dari dunia sekolah ke dunia kampus. Yang sedang belajar tentang semua hal baru. Teman baru, Dosen, kampus, kantin, perpus, tugas, dan semua tentang kuliah.

 Akhirnya semuapun berlalu begitu saja. Aku dan dia yang sama-sama punya kesibukan masing-masing sekaligus jarak yang jauh antara kita, membuat kita tak pernah merasa saling kehilangan ataupun untuk sekedar saling merindukan. 

Kesibukan sebagai mahasiswi baru di Fakultas Ekonomi membuatku tak pernah punya waktu untuk sekedar menyapa teman lewat grup yang aku buat di jejaring sosial. Tak sempat untuk bercerita dengan teman lama tentang semua kehidupan baruku. Dan pula tak sempat untuk sekedar bercerita singkat di kertas putihku.
1 Semester berlalu dengan begitu cepat. Aku yang saat itu punya teman dekat. Aku tau dia, diapun tau aku. Namun hanya lewat tatapn jauh. Berjabat tanganpun kita tak pernah. Tapi kita tetap teman dekat. Mungkin dia satu-satunya teman yang dari sebelum aku resmi menjadi mahasiswa hingga melewati 1 smester yang penuh cerita, dialah pengganti kertas putihku. Dengannya aku bercerita tentang semua hal. Hingga akhirnya dia bercerita tentang ‘rasa’. Aku yang cukup sensitif dengan masalah itu, dan lagi-lagi aku tak memberi kesempatan pada hati ini untuk terbuka sedikit saja, dan memberi kesempatan kepadanya. 

Dan semuanyapun berubah, dia menjauhiku karena hal yang sama sekali tak penting bagiku saat itu. Akupun menyikapinya dengan sikap masa bodoh walau sebenarnya aku memikirkannya. Aku tak mau dijauhinya, karena aku tak mau kehilangan sosok teman yang sangat baik padaku. Hingga akhirnya dia menemukan jawaban pada sosok wanita lain. Aku turut bahagia untukmu teman.
**
Seperti biasa, aku lewati hari-hariku  dengan tugas-tugas baru. Namun terkadang ada rasa jenuh, saat aku merasa bahwa hidupku hanya berisikan tugas kampus, kuliah, kost, kantin, dan hal lainnya yang rutin aku jalani. Tak ada hal lain, tak ada refreshing, ataupun sekedar jalan-jalan mengelilingi kota.
Akupun menuliskan perasaanku pada sebuah status di FB ku. Aku jenuh, tak ada yang baru di hidupku. Tak ada seseorang yang membuatku merasa lebih bahagia melewati hari-hariku. Cinta, aku yang jarang sekali menulis tentang cinta, tapi entah kenapa aku menulis kata itu. Hingga seseorang berkomentar padaku “bagaimana mungkin ada seseorang hadir dalam hidupmu, jika kamu selalu menutup hatimu dan berkata tidak untuk mereka”. Seseorang itu juga termasuk dalam kata mereka itu. 

Aku merenung. Dan memang benar kata-katanya. Namun tidakah mereka ingin tau apa alasanku? Selama ini aku terlihat tegar, aku terlihat kuat, semangat menjalani semuanya. Aku ceria, aku tersenyum aku bilang aku nyaman dan bahagia, serta menikmati hidup ini. Tapi taukah kalian, bahwa sesungguhnya aku rapuh. Aku mencoba bangkit dari masalaluku. Dari kisah lamaku. Aku yang mencoba menghapus semua memoriku, tentang dia. Dia, seseorang yang pernah aku sayang, seseorang yang dahulu amat sangat aku percaya. Seseorang yang dulu selalu ubah tangisku menjadi tawa. Seseorang yang dulu selalu memotivasiku, selalu bertukar ilmu denganku, selalu menguatkan aku. Tapi seseorang itu dengan lembutnya menyakitiku.

Aku rapuh. Rapuh karena kisah lamaku. Aku enggan menjadi subjek dalam cerita seperti itu lagi. Cukup sekali aku menjadi pemeran utama dalam kisah pilu. Aku enggan tersakiti ataupun menyakiti. Aku enggan, enggan menangis lagi. 2 tahun bagiku waktu yang cukup lama untuk menghapus semua rasa takutku itu. Menghapus semua hal tentang kisah itu. 

Terimakasih untuk semua orang yang pernah hadir mengisi hari-hariku. Terimakasih telah pernah menyayangiku. Aku beruntung pernah kenal kalian. Karena aku yakin kalian menyayangiku bukan karena kelebihanku. Kalian menerima segala kekuranganku. Kalian yang tak pernah memandang dari rupa, tahta, status sosial, tapi kalian mampu menilaiku dari sisi lain. Untuk yang pernah tulus menyayangiku, aku yakin ada sosok wanita yang jauh lebih baik dari aku yang juga akan tulus menyayangimu.

Maaf, karena aku tak pernah mencoba membuka hati. Tak pernah luluh oleh tulusnya rasa sayang. Tak pernah memberi alasan untuk sedikit memberi kejelasan tentang 1 pertanyaan. Tak pernah memberi kesempatan untuk sekedar menjelaskan isi hati. Bukan aku terlalu pilih-pilih, bukan aku mencari yang sempurna, bukan pula melihat dari bagusnya rupa, tingginya tahta ataupun melihat derajat sosial. Itu tidak. Hanya saja, mungkin aku belum bisa.

Kini aku tlah terbiasa sendiri. Masa-masa berat itu sudah terlewati. Cukup banyak kejadian, hal, pesan, pelajaran, motivasi dan segala perubahan yang aku dapat selama 2th terakhir. Bahkan aku amat sangat bersyukur karena masalaluku mengantarkan aku ke kehidupan yang jauh lebih baik. Aku mengenal banyak orang, teman, sahabat, dan semua yang secara langsung ataupun todak langsung telah memotivasi aku.
***
Ya Allah Ya Rabb.ku terimakasih atas semua teguranmu dan semua ujianmu, karena semua itu aku sadar betapa berdosanya aku selama ini jauh darimu. Terimakasih telah perkenalkan aku dengan dirinya. Telah dekatkan aku dengannya. Telah jadikan dia perantara untuk menyadarkan aku. Lewat dia Engkau sampaikan pesan. Lewatnyalah aku lebih mencintai-Mu. Dan aku sadar, bahwa itu salah. Semoga aku bisa mencintainya karena-Mu, bukan aku mencintai-Mu karenanya. 

Tuntunlah aku menjadi wanita yang shaleha ya Rabb, tunjukilah aku jalan yang lurus mendapatkan segala ridho-Mu. Jauhkan aku dari segala rasa iri dengan mereka yang tengah bersama cinta semunya. Sabarkan aku dalam menantinya menuju ikatan yang Engkau halalkan. Dekatkan aku dengan orang-orang yang berada di jalan-Mu. Dan jika aku berada di dekat orang-orang yang jauh dari-Mu semoga aku bisa mendekatkannya dengan-Mu.

Amin ya Rabbal'alamin
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar