بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sahabat, dimanapun
kamu berada saat ini. Bersama siapapun kamu sekarang ini. Semoga kamu selalu
dalam lindungan-Nya.
Flash back dulu yuu..
Masih inget waktu jamannya SMP? Kita
satu kelas terus ya? Dulu kita deket, walaupun ga deket-deket banget. Tapi 3
tahun bareng, cukup tau tentang kamu. Kamu yang pinter, kamu yang aktif, kamu
yang suka ngegambar, kamu yang tulisannya rapi, kamu yang agamanya bagus, kamu
yang suka nyanyi, dan kamu yang baik hati. Dulu tu kamu kecil dibanding yang
lain. Sukanya duduknya barisan kiri depan deket jendela. Mungkin karena itu
kamu pinter yakk... Masih inget juga ga? Waktu ada acara bersih-bersih di
sekolah? Anak-anak disuruh bawa alat, eh ga pada bawa. Akhirnya pada kena pukul
tuh sama Pak Darno guru mtk. Cuma kita yah yang ga kena? Untung kita rajin
yaa..
Aku rindu..rindu masa-masa itu.
Rindu menikmati suasana kelas 9 A. Rindu alunan musik gitar di 9 A. Rindu
suasana gaduh kelas kita. Rindu saat karnaval. Rindu saat lomba kebersihan
kelas. Rindu saat kelas kita jadi petugas upacara yang ga pernah bener. Rindu
disiram aer kelas kita sama Pak Joko. Rindu masak bareng saat praktek tataboga.
Dan rindu saat kita main bersama.
**
Assalamu'alaykum Akhi yang dicintai oleh ALLAH
Ya Akhi, sekarang Antum telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tak lagi seperti yang Ana kenal 7 tahun yang lalu. Antum yang basicnya memang pintar, sekarang Antum tumbuh jauh lebih pintar dan berilmu. Ya Akhi, tahukah Antum? Kadang Ana iri ingin seperti Antum. Ana ingin bukan saja belajar ilmu dunia, tapi akherat juga. Ana ingin tinggal di lingkungan yang damai, dipenuhi orang-orang yang memang amat sangat mencintai agamanya, seperti Antum. Antum tumbuh dewasa, begitupun Ana. Karena pendewasaan itu, Ana mulai tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan jalan mana yang akan Ana pilih untuk masa depan Ana. Teman seperti apa yang harus Ana ikuti untuk kebaikan hidupk Ana.
Ya Akhi, sekarang Antum telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tak lagi seperti yang Ana kenal 7 tahun yang lalu. Antum yang basicnya memang pintar, sekarang Antum tumbuh jauh lebih pintar dan berilmu. Ya Akhi, tahukah Antum? Kadang Ana iri ingin seperti Antum. Ana ingin bukan saja belajar ilmu dunia, tapi akherat juga. Ana ingin tinggal di lingkungan yang damai, dipenuhi orang-orang yang memang amat sangat mencintai agamanya, seperti Antum. Antum tumbuh dewasa, begitupun Ana. Karena pendewasaan itu, Ana mulai tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan jalan mana yang akan Ana pilih untuk masa depan Ana. Teman seperti apa yang harus Ana ikuti untuk kebaikan hidupk Ana.
Ya Akhi, karena itu Ana mengagumi Antum. Dan maaf jika rasa kagum ini sedikit berlebihan. Tapi tak usah
khawatir. Ana takan pernah mengijinkan rasa kagum ini tumbuh menjadi perasaan
lain. Karena Ana tahu Antum tak suka itu. Terimakasih untuk
persahabatan kita sejauh ini. Terimakasih masih hafal nomor Ana yang dulu.
Terimakasih selalu kasih kabar ke Ana dari dulu. Terimakasih atas semua nasehat
dan ilmu yang Antum tularkan pada Ana. Terimakasih sering menelefon Ana. Terimakasih
sering menghibur dan memberi semangat untuk Ana. Dan sekalipun sekarang Antum
menjauh dari Ana, Ana berterimakasih.
.
Ya Akhi, Ana tak marah pada Antum, namun Ana sedih. Tapi Ana belajar ikhlas. Ikhlas dijauhi
oleh Antum. Mungkin ini ke dua kalinya Antum menjauhi Ana. Tak apa, jika dengan
menjauhi diri Ana, menjauh dari hidup Ana, Antum merasa lebih nyaman dan bahagia,
lakukanlah! Ana turut bahagia jika Antum merasa bahagia. Dan Antum tak perlu
merasa bersalah pada Ana karena hal ini.
Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar