:)


Selasa, 12 Februari 2013

Surat singkat untuk sahabat

                                                                                      
 بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم





Sahabat, dimanapun kamu berada saat ini. Bersama siapapun kamu sekarang ini. Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya.

Flash back dulu yuu..
Masih inget waktu jamannya SMP? Kita satu kelas terus ya? Dulu kita deket, walaupun ga deket-deket banget. Tapi 3 tahun bareng, cukup tau tentang kamu. Kamu yang pinter, kamu yang aktif, kamu yang suka ngegambar, kamu yang tulisannya rapi, kamu yang agamanya bagus, kamu yang suka nyanyi, dan kamu yang baik hati. Dulu tu kamu kecil dibanding yang lain. Sukanya duduknya barisan kiri depan deket jendela. Mungkin karena itu kamu pinter yakk... Masih inget juga ga? Waktu ada acara bersih-bersih di sekolah? Anak-anak disuruh bawa alat, eh ga pada bawa. Akhirnya pada kena pukul tuh sama Pak Darno guru mtk. Cuma kita yah yang ga kena? Untung kita rajin yaa..

Aku rindu..rindu masa-masa itu. Rindu menikmati suasana kelas 9 A. Rindu alunan musik gitar di 9 A. Rindu suasana gaduh kelas kita. Rindu saat karnaval. Rindu saat lomba kebersihan kelas. Rindu saat kelas kita jadi petugas upacara yang ga pernah bener. Rindu disiram aer kelas kita sama Pak Joko. Rindu masak bareng saat praktek tataboga. Dan rindu saat kita main bersama.
**
Assalamu'alaykum Akhi yang dicintai oleh ALLAH

Ya Akhi, sekarang Antum telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tak lagi seperti yang Ana kenal 7 tahun yang lalu. Antum yang basicnya memang pintar, sekarang Antum tumbuh jauh lebih pintar dan berilmu. Ya Akhi, tahukah Antum? Kadang Ana iri ingin seperti Antum. Ana ingin bukan saja belajar ilmu dunia, tapi akherat juga. Ana ingin tinggal di lingkungan yang damai, dipenuhi orang-orang yang memang amat sangat mencintai agamanya, seperti Antum. Antum tumbuh dewasa, begitupun Ana. Karena pendewasaan itu, Ana mulai tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dan jalan mana yang akan Ana pilih untuk masa depan Ana. Teman seperti apa yang harus Ana ikuti untuk kebaikan hidupk Ana.

Ya Akhi, karena itu Ana mengagumi Antum. Dan maaf jika rasa kagum ini sedikit berlebihan. Tapi tak usah khawatir. Ana takan pernah mengijinkan rasa kagum ini tumbuh menjadi perasaan lain. Karena Ana tahu Antum tak suka itu. Terimakasih untuk persahabatan kita sejauh ini. Terimakasih masih hafal nomor Ana yang dulu. Terimakasih selalu kasih kabar ke Ana dari dulu. Terimakasih atas semua nasehat dan ilmu yang Antum tularkan pada Ana. Terimakasih sering menelefon Ana. Terimakasih sering menghibur dan memberi semangat untuk Ana. Dan sekalipun sekarang Antum menjauh dari Ana, Ana berterimakasih.
.
Ya Akhi, Ana tak marah pada Antum, namun Ana sedih. Tapi Ana belajar ikhlas. Ikhlas dijauhi oleh Antum. Mungkin ini ke dua kalinya Antum menjauhi Ana. Tak apa, jika dengan menjauhi diri Ana, menjauh dari hidup Ana, Antum merasa lebih nyaman dan bahagia, lakukanlah! Ana turut bahagia jika Antum merasa bahagia. Dan Antum tak perlu merasa bersalah pada Ana karena hal ini.

Akhi, walaupun pada akhirnya komunikasi antara kita semakin jauh, tapi  persaudaraan antara kita begitu berarti dan indah. Ana tidak akan menjadikan Antum sebagai bagian dari sebuah kenangan, karena kadang kala kenangan itu bisa terhapus dari memori kita, sedangkan Ana tidak akan mungkin dapat menghapuskan sosok Antum yang begitu menancap kuat dalam kehidupan Ana.

Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar